Saat ini kebudayaan Jawa, terutama Filsafat Jawa hampir hilang dari kehidupan masyarakat. Kehidupan kita yang cenderung “western” telah mengabaikan filsafat- filsafat Jawa tersebut. Padahal dalam filsafat-filsafat tersebut mengandung ajaran “adiluhung” yang sangat berguna bagi kehidupan masyarakat.
Filsafat Jawa pada dasarnya bersifat universal. Jadi filsafat Jawa bukan hanya diperuntukkan bagi masyarakat Jawa saja, tetapi juga bagi siapapun yang ingin mempelajarinya.
Beberapa filsafat jawa yang biasa
- Memayu hayuning bawana (melindungi bagi kehidupan dunia)
- Sukeng tyas yen den hita (suka/bersedia menerima nasihat, kritik, tegoran)
- Jer basuki mawa beya (keberhasilan seseorang diperoleh dengan pengorbanan)
- Ajining dhiri dumunung ing kedhaling lathi (nilai diri seseorang terletak pada gerak lidahnya)
- Ajining sarira dumunung ing busana (nilai badaniah seseorang terletak pada pakaiannya)
- Amemangun karyenak tyasing sesama (membuat enaknya perasaan orang lain)
- Kridhaning ati ora bisa mbedhah kuthaning pasthi (Gejolak jiwa tidak bisa merubah kepatian)
- Budi dayane manungsa ora bisa ngungkuli garise Kang Kuwasa (Budi daya manusia tidak bisa mengatasi takdir Yang Maha Kuasa)
- Sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti (kemarahan dan kebencian akan terhapus/hilang oleh sikap lemah lembut)
- Tan ngendhak gunaning janma (tidak merendahkan kepandaian manusia)
Masih banyak filsafat-filsafat jawa yang lain. Satu hal yang harus diingat, mempelajari kebudayaan suatu daerah bukan berarti kita menjadi “rasis” atau fanatik kedaerahan, namun itu semua sebagai wujud pertanggung jawaban kita terhadap peninggalan nenek moyang bangsa kita. Dan juga melestarikan kebudayan daerah bukan hanya menjadi tanggung jawab warga daerah tersebut. Tetapi juga menjadi tanggung jawab kita semua.. (ingat semboyan bangsa kita “Bhineka Tunggal Ika”…..)
Bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang hidup modern, tetapi juga bangsa yang mampu hidup modern tanpa meninggalkan ajaran dan nilai luhur kebudayaannya.
Dari bahasan diatas tentang filsafat jawa tentu ada kaitannya dengan Budaya Jawa yang adiluhung yaitu Wayang. Menurut saya wayang adalah cerminan budaya yang complit dan tentunya semua unsur seni masuk disitu baik seni lukis, musik, teater dan lainnya dan tak lupa didalam pertunjukannya tentu slalu mengedepankan tontonan, tuntunan dan tatanan.
- Wayang sebagai tontonan sudah jelas enak untuk ditonton atau dilihat atau didengarkan.
- Wayang sebagai tuntunan sudah jelas pula dalam pertunjukan selalu diselipkan ajaran ajaran budi pekerti yang tentunya syarat dengan pesan pesan moral.
- Wayang sebagai tatanan sedah jelas pula bahwa tata kehidupan manusia sudah digambarkan dalam sebuah alur cerita yang dibawakan sang Dalang.
Wujud nyata sebagai pertanggung jawaban kita terhadap peninggalan nenek moyang kita ini bukan hanya menikmati saja, akan tetapi bagaimana kita harus berperan aktif dalam melestarikan atau nguri – uri kebudayaan dengan berbagai cara tanpa harus merugikan berbagai pihak.
10 atau 20 Tahun yang akan datang kita tidak tahu apakah masih seperti ini atau makin ngremboko atau jalan ditempat atau malah mundur dan hilang ditelan peradaban jaman yang istilahnya ditelan peradaban modern. Kita tidak tau apakah nanti anak cucu kita tahu atau suka dengan wayang di 10 atau 20 Tahun yang akan datang ?. tentu yang bisa menjawab adalah kita sendiri.
Seni bisa disebut Sentuhan Nurani
Pengertian seni menurut para Ahli adalah sebagai berikut :
M. Adler : sesuatu yang memberi kita kesenangan
T. Aquines : sesuatu yang apabila dilihat membuat senang
Aristoteles : sesuatu selain baik juga menyenangkan
J. Bushnel : kualitas yang mendatangkan apresiasi
S. Coleridge : perpaduan sesuatu yang baik
F. Hegel : identitas yang sempurna dan nyata
Michellengolo : penyingkiran hal yang berlebihan
Frans H : sesuatu yang dapat memberi ide dan gagasan
Jonhson : perimbangan bagian yang menyenangkan
I Kant : sesuatu yang menyenangkan seketika, dan semesta
Eric W : gejala yang dapat di cerna oleh indra dengan baik
Herbert : bentuk penerapan indrawi manusia yang senang
J. Ruskin : benda yang dapat memberi kesenangan
- Brade (1956) seni adalah pemanfaatan budi dan akal untuk menghasilkan karya yang membahagiakan jiwa spiritual manusia
- Lager (1964) seni adalah kegiatan untuk menciptakan sesuatu yang dapat dipahami oleh perasaan manusia bentuknya berupa lukisan patung, arsitektur, musik, tari, film dan lain-lain
- Read (1968) seni adalah ekspresi sebuah pengalaman nyata yang memiliki nila yang berdiri sendiri yang dapat ditangkap oleh panca indra
Indonesia memang menpunyai banyak ragam seni dan budaya yang tak lepas dari karakter bangsa ini. Dan dalam seni dan budaya tersebut tentu syarat akan pesan moral dan filsafat hidup. Akan tetapi sangat ironi bila semakin hari, berganti bulan dan berganti tahun tidak pernah terkover oleh kesatuan budaya sehingga terabaikan dengan sendirinya seandainya dinas terkait memperhatikan itu, kan bisa di komersilkan buat provit devisa. Dan kita sendiri dengan acuh tak acuh hanya sebagai penikmat saja dan tanpa ada greget untuk ikut berperan aktif memberikan contoh kepada lingkungan, anak cucu kita.
Kesenian pada saat ini mulai terabaikan karena tergeser perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. “Ini dikhawatirkan akan menimbulkan pergeseran nilai dan alih fungsi kesenian, baik sebagai hiburan, reli-gi, maupun fungsi sosialnya. Terus bagaimana wujud nyata kita dalam wadah PPW ini untuk dapat menjaga dan melestarikannya. Dan bagaimana dari sekian banyak penikmat pasif penikmat pasif yang ada di dunia maya ini dapat tergugah hatinya untuk berperan aktif dalam PPW.
Moral
Pengertian Etika, Moral dan Etiket
Istilah Etika berasal dari bahasa Yunani kuno. Bentuk tunggal kata ‘etika’ yaitu ethos sedangkan bentuk jamaknya yaitu ta etha. Ethos mempunyai banyak arti yaitu : tempat tinggal yang biasa, padang rumput, kandang, kebiasaan/adat, akhlak,watak, perasaan, sikap, cara berpikir. Sedangkan arti ta etha yaitu adat kebiasaan.
Lunturnya moral bangsa ini banyak factor atau penyebabnya juga, antara lain adalah :
Akibat Penurunan Kualitas Dalam Sajian Tontonan
Akibat dari tidak adanya lagi Pendidikan moral di sekolah atau lebih dikenal dulu adalah PMP (Pendidikan Moral Pancasila)
Kurangnya memahami Agama atau kepercayaanya sendiri
Dan sebagainya
Apa kaitannya dengan semua tadi diatas ?
Dengan lunturnya moral kita maka seni budaya yang adiluhung ini luntur juga dan akan tergilas oleh jaman.
Dengan lunturnya moral kita akan merusak tontonan, tuntunan dan tatanan dalam kehidupan.
Dengan lunturnya moral kita jelas tidak akan bisa membedakan halal & haram, baik dan buruk.
Dengan lunturnya moral kita akan tetap menjadi penikmat pasif dan cenderung menutup diri.
Dengan lunturnya moral Filasfat jawa yang begitu indahpun sudah tak mungkin lagi kita pahami, kita dengar, bahkan kita terapkan dalam sendi kehidupan manusia.
Dengan lunturnya moral maka PPW akan terus berjalan ditempat.
Dengan lunturnya moral maka penikmat pasif penikmat pasif tak mungkin bisa terketuk hatinya.
Indonesia akan maju, seni budaya akan tumbuh subur sebagai mana mestinya apa yang harus kita perbaiki ?
Tak ada lain MORAL
INGAT
Memperbaiki Moral tidak seperti memperbaiki Computer atau perangkat elektronik, atau mesin mesin pabrik atau alat alat lain buatan manusia.
Sebagian yang saya tulis ini adalah hasil sharing saya dengan Pak Hanarko Koko atau lebih dikenal dengan Pak Koko.
Beliau adalah pelaku seni yang tergolong senior di Trenggalek Jawa Timur khususnya dan cukup banyak jasa beliau dalam pengembangan seni khususnya Krawitan dan langkah konkrit beliau nyata sehingga semua anak beliau semua bergelut didunia seni, anak pertama kuliah di ISI Surakarta dan anak kedua bahkan masih SMP sudah mengelola Sanggar tari Tradisional yang cukup ternama di Jawa Timur.
Tak jauh beda yang di Yogyakarta yaitu Bapak Drs Sigit Tri Purnomo atau lebih familier KSMS (Ki Sigit Manggolo Seputro) juga sebagian dari segelintir pelaku seni yang telah mewariskan darah seninya ke Anak anak beliau.
Ini sebagian kecil contoh langkah konkret pelaku seni yang ada di Indonesia.
http://nusantara17081945.blogspot.com/2011/02/video-nggegok-by-campursari-tombo.html
Link diatas salah satu karya seni bapak Koko